Dewan Lamban Antisipasi Kekerasan

Posted: July 27, 2010 in news

SMK N 1 Temon yang masih menerapkan kekerasan fisik dalam MOS

* Komisi IV DPRD Kulonprogo Sidak Pelaksanaan MOS di SMK N I Temon

Kulonprogo – Peristiwa jatuhnya korban dalam serangkaian Masa Orientasi Siswa (MOS) dan Pelaksanaan Pelatihan Dasar Disiplin Korps (PPDK) di SMK N 1 Temon pada Kamis (15/7) silam, menggugah anggota Komisi IV DPRD Kulonprogo untuk melakukan sidak ke sekolah berbasis kelautan tersebut, Selasa (27/7).

Respon dari para wakil rakyat ini dinilai lambat. Pasalnya, kasus jatuhnya korban MOS itu sudah menggemparkan Kulonprogo sejak 12 hari lalu. Sedangkan sekarang, sekolah sudah mulai beraktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti biasa.

Saat diklarifikasi seputar empat siswi baru yang harus dilarikan ke Puskesmas Temon I akibat dehidrasi dan depresi setelah mengikuti PPDK, pihak sekolah mengatakan kondisi fisik keempat siswi tersebut sebelumnya memang sudah lemah.

“Sebelum memasuki kegiatan PPDK, seluruh peserta diperiksa kondisi fisiknya. Jika ada yang kondisi kesehatannya menurun, akan memperoleh perlakuan khusus. Namun kebanyakan dari mereka enggan mengaku. Akibatnya, di hari pertama jatuh dua siswi. Sedangkan di hari kedua, jatuh empat siswi” terang Kepala Sekolah Rohmadi didampingi guru pendamping MOS Arif Rahman Hakim.

Mengenai kabar soal beban pasir seberat 4 kg yang diwajibkan digendong para peserta MOS saat longmarch sejauh 15 km, pihak sekolah lagi-lagi tidak bisa menyangkal. Padahal, saat dikonfirmasi wartawan sebelumnya, pihak sekolah dengan tegas mengatakan kalau kabar itu bohong belaka.

Atas temuan itu, Ketua Komisi IV Yusron Martofa akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kulonprogo. Dia dan sejumlah anggota dewan lainnya berharap agar kasus semacam ini tidak lagi terulang di seluruh sekolah di Kulonprogo di tahun depan.

“Pihak penanggung jawab pendidikan, kepala sekolah, guru, dan dinas pendidikan, harus bertanggung jawab terhadap penyimpangan kegiatan MOS. Sebab, secara psikologis, kekerasan MOS mengakibatkan dampak buruk pada siswa. Jika semua pihak tidak serius terhadap menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap siswa, kasus kekerasan dalam MOS layaknya mata rantai yang sulit diputus” terang politisi dari PKB ini. (leo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s