Doa Lintas Agama Lestarikan Tradisi Leluhur

Posted: August 8, 2010 in feature, news

*Ritual Wiwit Petani Srikayangan

Kulonprogo – Bagi sebagian besar petani, ritual wiwit mungkin sudah dilupakan. Apalagi munculnya modernisasi petani yang sedikit banyak memutus tali hubungan antara manusia dan alam semesta. Yakni, tergerusnya rasa penghormatan kepada bumi atas apa yang dilimpahkannya.

Namun hal itu seolah ditepis oleh petani di Desa Srikayangan Sentolo. Dengan mengusung semangat kebersamaan, ritual wiwit tetap mereka laksanakan. Menurut Kades Srikayangan Maryono (54), ritual wiwit itu diikuti warga dari lima dusun bagian timur Desa Srikayangan. Ritual lintas agama ini dilaksanakan bersama-sama antara umat Islam dan Kristen.

“Kami melaksanakan sembahyangan wiwit dilapangan Desa Srikayangan. Bagi yang beragama Islam membaca tahlil, dan bagi umat Kristiani membaca ayat-ayat dalam kitab suci agama mereka,” jelasnya belum lama ini.

Selain dilengkapi ubo rampe seperti ingkung, tumpeng, sambal geplang (sambal ikan asin pedas dicampur kedelai), jajanan pasar, buah pisang dan nasi putih, ritual dilengkapi pula dengan penyalaan menyan. Usai doa bersama digelar, pemimpin ritual membawa besek (wadah makanan yang terbuat dari anyaman bambu, red) yang berisi beraneka ragam ubo rampe ke tengah sawah untuk diletakkan di galengan (pematang sawah).

Menurut Rois (pembaca doa) ritual Dusun Khimetam Martosiwuto (56),  ritual wiwit dilaksanakan tiap musm panen tiba. Kebetulan wiwit kali ini bersamaan dengan dirayakannya panen kedua tanaman padi ciherang yang sudah merata ditanam para petani di wilayah tersebut.

“Tradisi ini sudah naluri dari leluhur sebagai ungkapan rasa syukur kami kepada Tuhan Yang Kuasa, bahwa tanaman padi yang kami tanam menghasilkan panen yang melimpah. Perbedaan agama tak harus menghilangkan tradisi ritual wiwit. Justru dengan adanya perbedaan itu warga Desa Srikayangan harus lebih bersatu dalam satu ikatan tradisi yang saat ini nyaris hilang dikalangan petani” pungkasnya. (leo)

Comments
  1. hartana says:

    itu wiwit kapan ya? di perantauan jadi kagak tau perkembangan desa tercinta….
    dulu saya pernah mengadakan acara yang sama waktu panen bawang merah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s