Kata Merdeka Bukan Untuk Pedagang Kaki Lima

Posted: August 8, 2010 in news, Suara Warga

Ilustrasi : Muhammad Fuad Hamzah. Diunduh dari http://www.facebook.com/home.php?#!/photo.php?pid=461179&id=100000132690483 pada Minggu (8/8)

Gegap gempita menyambut hari ulang tahun (HUT) RI ke 65 kian terasa. Kata merdeka dengan lantang diteriakkan di segala penjuru, baik dalam upacara, rapat-rapat para pejabat, bahkan dalam pidato menyambut para petinggi.Sementara mereka asik mengenang jasa para pahlawan semasa memperjuangkan kemerdekaan, Sugiyono (53) seorang pedagang kaki lima di depan pasar Wates Kulonprogo DIY, justru masih sibuk memperjuangkan kemerdekaannya sendiri.

Sejak anggota Satpol PP Kulonprogo singgah di warung es degan miliknya saat menggelar razia spanduk liar belum lama ini, hati ayah dari tiga anak ini terus saja gelisah. Pasalnya, saat itu dia diwanti-wanti agar segera angkat kaki dari tempatnya menggantungkan hidup karena dianggap mengganggu ketertiban umum dan menyebabkan pasar terkesan kumuh.

“Sebelumnya, saya berjualan di depan toko WS dekat kantor Pos Wates sejak 2002 silam. Namun karena dianggap mengganggu ketertiban umum, gerobak saya diangkut satpol PP pada 2006. Sejak saat itu, saya mulai pindah lokasi di depan Pasar Wates atas seijin lurah pasar” kenang warga Sabrang Giripurwo Girimulyo ini.

Namun apesnya, setelah empat tahun ikhlas mengais rejeki sedikit demi sedikit di lokasi yang baru, satpol PP kembali mengusik keberadaannya. Dengan tegas petugas Satpol PP meminta dirinya dan juga para PKL lain segera berbenah tanpa ada solusi hendak kemana mereka akan direlokasi.

“Kalau nantinya saya dan teman-teman PKL lain jadi digusur, kemana lagi kami harus mengadu nasib?” katanya lirih dengan dahi mengerut. Dengan beratnya beban menghadapi rencana penggusuran, Sugiyono hanya bisa pasrah. Suaranya pun terlalu lemah untuk turut meneriakkan yel-yel kemerdekaan atau sekedar menyanyikan lagu-lagu kebangsaan.

“Kata merdeka hanya pantas diucapkan oleh orang-orang yang berduit, yang tidak perlu harus berjemur di terik matahari dan dikejar-kejar satpol PP demi sesuap nasi” pungkasnya. (leo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s