Menjadi Momok Karena Kurang Sosialisasi

Posted: August 8, 2010 in news

*Fenomena Tabung Gas Elpiji

Kulonprogo – Maraknya gas elpiji meledak di sejumlah daerah membuat sejumlah kalangan mengeluarkan kritik pedas. Tabung elpiji seolah momok menakutkan yang setiap saat mengincar nyawa sang pemilik rumah. Tidak sedikit masyarakat takut menggunakan kompor gas dan ingin beralih ke minyak tanah yang dinilai lebih aman.

Kritikan itu salah satunya disampaikan oleh sejumlah warga dari Desa Depok Kecamatan Panjatan. Dengan mengusung replika tabung gas ukuran jumbo dalam karnaval memperingati HUT RI ke 65 di alun-alun Wates, Minggu (8/8), mereka ingin mengingatkan pemerintah dan Pertamina yang kurang maksimal melakukan sosialisasi terkait cara aman menggunakan kompor gas beserta perangkat pendukungnya (tabung gas, regulator, dan selang) ke lapisan masyarakat bawah.

Menurut salah satu peserta pawai replika tabung gas Bambang Wiyono Atmojo (35), ledakan gas elpiji telah menjelma menjadi teror dan momok yang menakutkan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Di Kulonprogo sendiri, sudah ada tiga kasus ledakan gas elpiji terhitung sejak 9 Juli hingga Sabtu (7/8) kemarin.

“Kebijakan konversi minyak tanah ke gas merupakan kebijakan tepat. Selain lebih ramah lingkungan, gas juga lebih murah dan praktis. Tapi jangan kaget kalau mendengar kabar ledakan gas elpiji di sana-sini. Lha wong pemerintah dan Pertamina tidak serius memberikan sosialisasi kepada masyarakat soal tata cara pemakaiannya” ujarnya ditemui di sela-sela kesibukannya mempersiapkan pawai.

Selain mengusung replika tabung gas elpiji ukuran 3kg yang terbuat dari rangka bambu dibalut kertas sak semen yang dicat hijau, rombongan dari Depok Panjatan itu juga menampilkan aksi teatrikal yang diperankan oleh tokoh hantu pocong yang berkalungkan tulisan “Elpiji Bikin Aku Mati”. Penampilan grup yang sekilas tampak kocak namun mengandung pesan satir ini mampu menyedot perhatian dari ratusan warga Kulonprogo yang memadati sepanjang jalan di seputar alun-alun Wates.

“Dari total 39 kelompok yang tampil, rombongan ‘tabung gas’ dari Panjatan inilah yang memanfaatkan karnaval bukan sekadar ajang unjuk gigi. Selain kreatif, mereka juga jeli mengambil tema untuk menyampaikan pesan yang sarat makna” kata salah satu penonton Kristianto Nugroho (30) warga Pengasih. (leo)

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s