Nelayan Tradisional Tersisih di Rumah Sendiri

Posted: August 8, 2010 in news

*Zonasi Laut Mendesak Direalisasi

Nelayan tradisional di Pantai Trisik Kulonprogo

Kulonprogo – Jika kapal-kapal ukuran 30 gross ton masih nekat berlayar di perairan dekat bibir pantai, para nelayan di pesisir Kulonprogo tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas. Pasalnya, kegiatan tangkap ikan menggunakan pukat harimau di zona tangkap nelayan tradisonal masih marak terjadi. Hal ini jelas membuat nasib nelayan tradisional kian memprihatinkan akibat semakin sempitnya zona tangkap ikan bagi mereka.

Tak jarang, di sepanjang perairan Kulonprogo terlihat beberapa kapal pukat trawl milik pengusaha ikan dari luar wilayah melakukan penangkapan di zona 3 mil kawasan tangkap nelayan tradisional. Akibatnya, nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya dari tangkapan satu hari itu sulit mendapatkan ikan.

Salah satu staf Dankos AL wilayah Karangwuni Wates Pelda Agus Sumaryanto menuturkan, pihaknya sering memperoleh laporan dari para nelayan soal masuknya kapal-kapal ukuran besar (lebih dari 30 gross ton) ke wilayah perairan pantai. Selain menjarah ikan, kapal-kapal tersebut tak jarang juga merusak jaring-jaring yang dipasang nelayan tradisional.

“Dari hasil pantauan kami selama ini, kebanyakan kapal tersebut berasal dari Cilacap Jawa Tengah. Untuk itu, mewakili para nelayan di pesisir Kulonprogo, kami berharap agar Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo segera berkoordinasi dengan Dinas dari Cilacap untuk memikirkan kepastian nasib para nelayan tradisional di pesisir Kulonprogo” tegasnya di Gedung Binangun Pemkab Kulonprogo dalam acara Jaring Aspirasi Masyarakat, kemarin.

Agus menambahkan, saking jengkelnya melihat kapal-kapal besar itu berlayar di perairan pantai, beberapa nelayan di Pantai Trisik sempat mengancam untuk melakukan aksi pembakaran. Beruntung, aksi anarkis nelayan dapat dicegah.

“Selama ini kami terus melakukan patroli rutin dengan melibatkan nelayan tradisional. Kebanyakan dari mereka (para awak kapal ukuran 30 gross ton) mengaku berani menepi karena melihat tidak ada nelayan tradisional di pantai,” pungkasnya. (leo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s