Berkah Ramadhan Bukan Untuk Pengemis dan Anak Jalanan

Posted: August 29, 2010 in Uncategorized

Setiap memasuki bulan Ramadhan, para ustaz selalu memompa semangat jamaahnya untuk meningkatkan amal sedekah. Di sisi lain, pemerintah gencar mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan sedekah kepada pengemis. Pasalnya, keberadaan pengemis disinyalir dikoordinasi preman. Selain itu, larangan memberikan sedekah kepada pengemis juga karena penghasilan mereka melebihi upah minimum kota.

Menurut Iman (Kepala Dinas Sosial Kota Bekasi), penghasilan pengemis dan anak jalanan (anjal) dalam satu bulan melebihi upah minimum kota (UMK) Kota Bekasi yang hanya sekitar Rp 1.155.000. “Selama Ramadhan, pengemis dan anak jalanan mampu mendapatkan Rp 30.000-50.000 per hari” katanya. (dikutip dari Sindo, 17 Agustus 2010).

Jujur, rasa geram seketika muncul setelah membaca berita berjudul “Dilarang Bersedekah ke Pengemis” yang cukup pendek dan letaknya nyempil di sudut bawah halaman Megapolitan itu. Kenapa harus orang kecil yang selalu menjadi korban?

Kalau memang dikoordinasi preman, kenapa Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi tidak mendesak kepolisian agar menangkap para preman yang mendalangi bisnis pengemis dan anjal ini? Langkah ini jelas lebih efektif mencegah praktek eksploitasi kaum miskin daripada sekadar mengimbau masyarakat agar jangan menyedekahi mereka.

Selama ini aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) hanya disibukkan dengan razia pekat (penyakit masyarakat). Seperti yang biasa kita lihat di layar kaca, petugas dengan tangkas menangkapi pengemis, gelandangan, pengamen, anjal, pekerja seks komersil (PSK), dan waria yang tersebar di perempatan lampu merah, emper pertokoan, dan tempat-tempat umum (halte, terminal, stasiun, taman kota).

Namun apalah artinya. Meski berkali-kali ditangkap dan dibawa ke kantor Dinas Sosial untuk mendengarkan pengarahan, para “penyakit masyarakat” ini (sungguh istilah yang kejam menurutku) sudah kebal. Sebab, yang ada di kepala mereka hanyalah bagaimana cara bertahan hidup dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Mereka sudah siap menghadapi segala resiko, seperti kembali tertangkap razia, daripada mati kelaparan tanpa ada yang peduli.

Kenapa polisi tidak menangkap preman yang diduga kuat melatarbelakangi bisnis haram itu? Beringin tidak akan tumbang jika hanya dicabuti daunnya. Kalau kepolisian tidak merespon dugaan koordinasi preman di belakang bisnis pengemis dan anjal, pemkot Bekasi juga harus berani menyatakan dugaan adanya “koordinasi” antara preman dan kepolisian.

Selain disinyalir didalangi preman, larangan menyedekahi pengemis dan anjal karena penghasilan mereka melebihi UMK. Kenapa Pemkot Bekasi harus iri melihat mereka meraup penghasilan tinggi? Apakah salah jika pengemis dan anjal itu terpaksa berjuang sendiri setelah lelah menunggu realisasi program pengentasan kemiskinan yang menyeluruh dan merata dari pemerintah. Toh, setiap kali pemerintah membagikan bantuan dalam berbagai macam kegiatan, mereka juga tidak terjamah karena tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP).

Atau mungkin Pemkot Bekasi khawatir jika nantinya para buruh pabrik, pelayan toko, dan semua tenaga kerja rendahan lain memutuskan alih profesi menjadi pengemis? Jika benar, berarti sudah waktunya pemerintah mempertimbangkan tuntutan buruh yang setiap tahun menyuarakan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) dalam aksi demonstrasi memperingati hari Buruh Sedunia. Mengutip kalimat Gusdur, “Gitu aja kok repot!”

Comments
  1. ujang says:

    mantab, luar bisasa. kalo bisa di up date truzzzzz!!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s