Isu Perbatasan Redam Kasus Korupsi dan Ledakan Elpiji?

Posted: August 29, 2010 in Uncategorized

Dua berita besar yang akhir-akhir ini menghiasi halaman depan beberapa surat kabar membuat saya merasa bangga sekaligus sanksi terhadap para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Di satu sisi mereka tampak heroik mengobarkan kebencian kepada Malaysia yang dianggap telah berkali-kali merendahkan kedaulatan NKRI. Di sisi lain, mereka juga begitu keras menolak memberikan kewenangan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menerima laporan hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Demi menjaga nama baik Indonesia di mata Internasional adalah benang merah yang dapat saya tarik dari kedua berita tersebut. Tuntutan DPR kepada pemerintah agar mendesak Malaysia meminta maaf jelas menunjukkan sikap patriotik mereka sebagai wakil rakyat. Namun sayangnya, para politikus Senayan itu juga menghalangi upaya KPK mengentaskan Indonesia dari predikat salah satu negara paling korup di dunia.

Sebagaimana kita ketahui, beberapa fraksi di DPR tegas menolak salah satu pasal dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Pencucian Uang yang intinya akan melegalkan KPK untuk menyidik kasus pidana pencucian uang. Sebelumnya, kewenangan tersebut hanya ada pada kepolisian dan kejaksaan. Padahal jelas-jelas terbukti, kedua aparat penegak hukum itu kurang maksimal menuntaskan kasus korupsi. Salah satu kasus yang masih hangat dibenak kita seperti rekening gendut sejumlah perwira polisi. Sudah sejauh mana pengusutannya?

Jadi, kenapa harus menghalangi upaya KPK untuk mengusut kasus korupsi jika DPR benar-benar berniat menjaga harkat dan martabat NKRI? Bukankah keterpurukan bangsa ini lebih dikarenakan banyaknya tikus-tikus berdasi yang menggerogoti uang rakyat? Menurut saya, koruptor jauh lebih berbahaya jika dibandingkan dengan Polisi Diraja Malaysia. Namun faktanya, para wakil rakyat di Senayan justru lebih berapi memprovokasi masyarakat untuk memusuhi Malaysia daripada mengobarkan semangat memberantas korupsi.

Bisa dilihat akibatnya. Pemerintah Malaysia berang melihat aksi demonstrasi anti Malaysia yang jauh melampaui batas kewajaran. Pembakaran bendera Malaysia dan pelemparan kotoran manusia di Kantor kedutaan Besar Malaysia di Jakarta beberapa waktu lalu membuat pihak Malaysia mengeluarkan imbauan kepada warganya agar menunda rencana kunjungan ke Indonesia (travel advisory). Siapa yang rugi? Apakah pemerintah Indonesia bisa membalas dengan tindakan serupa?

Padahal kita tahu, jutaan warga Indonesia rela menjadi budak di Malaysia karena minimnya lapangan pekerjaan di kampung halaman. Sementara devisa Indonesia berkurang karena wisatawan dari Malaysia membatalkan rencananya mengunjungi Indonesia, tidak menutup kemungkinan para pejabat kita masih asik melenggang dan menghamburkan uang di Malaysia untuk berlibur bersama keluarganya.

Bukan bermaksud menggurui, marilah kita berpikir lebih bijak lagi tanpa melibatkan emosi. Biarlah masalah perbatasan maritim dengan Malaysia diselesaikan melalui jalur diplomatik. Konfrontasi bukanlah satu-satunya jalan keluar. Sebab, jika perang sungguh terjadi, berapa banyak korban dan biaya yang dipertaruhkan hanya sekadar demi gengsi? Amerika yang dikenal sebagai negara kaya dan adi kuasa pun sempat kolaps karena besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk invasi ke Irak.

Sederhananya, daripada berhutang untuk beli amunisi, mending untuk menggiatkan sosialisasi kepada masyarakat lapisan paling bawah seputar tata cara pemakaian elpiji yang aman dan benar. Di sini justru timbul lagi satu pertanyaan. Apakah dibesar-besarkannya peristiwa penangkapan tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan Indonesia oleh Polisi Diraja Malaysia saat menggiring kapal nelayan Malaysia yang diduga mencuri ikan di perairan Tanjung Berakit Indonesia pada 13 Agustus itu sengaja untuk mengalihkan gencarnya berita pengusutan beberapa kasus korupsi dan kabar terus bertambahnya korban ledakan gas elpiji?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s