Lebaran, Musim Panen Bagi Pedagang Dadakan

Posted: September 7, 2010 in feature, news

Kulonprogo – Sepekan menjelang lebaran diyakini sebagai musim panen bagi para pedagang, khususnya bagi pedagang makanan ringan dan pakaian. Pasalnya, kedua kebutuhan itulah yang keberadaannya seolah ‘wajib’ ada untuk menyambut datangnya hari kemenangan bagi umat muslim di Indonesia setelah menaklukkan hawa napsu sebulan lamanya.

Melonjaknya animo belanja masyarakat setiap menjelang hari raya Idul Fitri tidak disia-siakan begitu saja oleh Kanisih. Perempuan setengah baya asal Wates yang biasa berjualan buah di depan stasiun Wates itu rela banting stir untuk berdagang makanan ringan. Bahkan, ibu dari tiga anak itu terpaksa memindahkan lapak dagangannya ke trotoar di depan pasar Wates demi memudahkan masyarakat melirik beraneka ragam kue dan makanan ringan yang dijajakannya.

“Sejak 2002 silam saya sudah menekuni bisnis dadakan ini setiap tahun. Pasalnya, para pembeli lebih tertarik memborong kue dan makanan ringan daripada buah untuk menyuguh tamu yang biasa bertandang ke rumah seusai menunaikan salat sunah Idul Fitri” terangnya.

Menurut pengalamannya setelah berjualan selama 8 tahun, Kanisih mengatakan, membanjirnya pembeli baru akan terasa pada lima hari hingga dua hari sebelum lebaran. Dalam tiga hari itu, dia berani memastikan modal yang telah dikeluarkannya sebesar Rp 6 juta rupiah dapat segera kembali sekaligus meraup untung berkali lipat dari hari biasa.

Hal itu bukan karena dirinya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, semisal menaikkan harga semaunya. Sebab, harga makanan ringan rata-rata tidak mengalami kenaikan harga yang signifikan. Hal tersebut diakui oleh Sarjiah (38), salah satu pedagang dadakan yang memadati trotoar di sepanjang jalan depan pasar Wates.

“Harga tetap stabil, yakni berada pada kisaran Rp 12 ribu hingga Rp 30 ribu, tergantung jenis dan satuannya. Keuntungan melimpah ini justru karena banyaknya pembeli yang rela memborong dalam jumlah besar sekaligus” jelasnya saat ditemui ditengah kesibukannya melayani pembeli.

Para pedagang dadakan tersebut mengaku tidak terlalu khawatir dengan satpol PP yang biasa melakukan razia penertiban. Sebab, mereka merasa tetap setia menjaga ketertiban. Bahkan tidak menutup kemungkinan, sepulang dari kantor dan melepas seragam coklatnya, para polisi pamong praja itu turut berjejal mengantri di pasar dadakan. (leo)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s