Kenduri Rojo Koyo, Tradisi Leluhur Yang Sempat Mati Suri

Posted: September 13, 2010 in feature, news

epala Disbudparpora,Sarjana, mengguyurkan air kembang dalam upacara tradisi "Kenduri Rojo Koyo"

Kulonprogo – Setelah sempat terputus dua puluhan tahun, tradisi “Kenduri Rojo Koyo” kini diadakan lagi di Waduk Sermo Kecamatan Kokap, Senin (13/9). Dibangkitkannya kembali tradisi tahunan ini berawal dari kekhawatiran warga Dusun Gudang Hargowilis Kokap akan punahnya budaya warisan leluhur.

Salah satu pemangku adat desa setempat Wasimin (42) mengatakan, ritual sebagai wujud syukur atas limpahan rezeki dalam bentuk hasil panen dan hewan ternak atau rojo koyo itu sebenarnya masih dipertahankan oleh sebagian kecil warga. Hanya saja, untuk tahun ini diselenggarakan secara massal agar lebih meriah dan dapat dikenal masyarakat luas.

“Hanya segelintir warga, khususnya yang sudah tua, yang melestarikan tradisi setiap Idul Fitri ini. Sedangkan bagi generasi muda, tradisi semacam ini sudah jarang dikenal” ujar bapak tiga anak itu.

Upacara adat yang mengambil tema ‘Sermo Hamengku Gati’ itu diawali dengan kirab 14 ekor kambing dan 2 ekor sapi, gunungan wulu wetu (yang tersusun dari bermacam umbi dan buah-buahan), dan gunungan nasi tumpeng. Sesampainya di tepi waduk, rojo koyo itu kemudian diguyang (diguyur, red) dengan air kembang.

Setelah prosesi guyang selesai, dua buah gunungan yang sudah didoakan para sesepuh adat diperebutkan puluhan warga yang sedari pagi setia mengikuti jalannya upacara. Acara kemudian dilanjutkan dengan ritual tabur bunga di waduk Sermo. Dengan menumpang tiga buah perahu, para sesepuh adat dan wakil bupati Kulonprogo Mulyono beserta jajarannya mengitari waduk seraya menabur bunga.

“Tabur bunga dimaksudkan untuk mengenang arwah para leluhur yang makamnya terendam di dasar Waduk Sermo” kata Wasimin. Pasalnya, selain memindahkan 107 kepala keluarga dengan transmigrasi ke Bengkulu dan Riau, pembangunan waduk dengan membendung Sungai Ngrancah pada tahun 1994 itu juga menenggelamkan lima tempat pemakaman umum (TPU).

Setelah tabur bunga selesai, acara ditutup dengan pementasan dua grup kesenian tradisional, yakni jathilan Turonggo Widobudoyo dan sholawatan Nurul Barokah dari Dusun Tegalrejo Hargowilis. Sebagai puncak acara, pada malam harinya akan digelar pertunjukan wayang kulit dengan dalang Suhartono (42), putra daerah yang mengharumkan nama Hargowilis di dunia perwayangan nasional. (leo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s