Bersih Desa Tayuban

Posted: September 15, 2010 in feature, news

Kepala kerbau turut diarak warga dalam ritual bersih desa Tayuban, Kulonprogo, DIY

Ritual bersih desa yang dilaksanakan di Desa Tayuban, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo, DIY kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya, satu kepala kerbau turut diarak warga menuju balai desa setempat, Rabu (15/9).

Dalam pidato sambutannya, Camat Panjatan Aspiyah Bachrun menuturkan, dikirabnya kepala kerbau itu jangan disalahartikan sebagai perlambang musyrik. Sebab, kepala kerbau itu dihadirkan dalam konteks budaya,  tidak ada sangkut-pautnya dengan agama.

“Dikirabnya kepala kerbau itu berkaitan dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon ‘Duryudono Gugur’ yang akan dipentaskan pada malam harinya” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Panitia bersih desa Bambang Sumbogo. Menurut Bambang, upacara bersih desa yang dilaksanakan tiap dua tahun sekali itu selalu menampilkan pertunjukan wayang kulit sebagai puncak acara.

“Kebetulan tahun ini lakonnya Duryudono Gugur. Sebagaimana biasa ditemui dalam pementasan ‘Duryudono Gugur’ di daerah lain, kehadiran kepala kerbau hanya sebagai penguat cerita” katanya.

Sejak pagi warga dari tujuh pedukuhan berduyun memadati halaman masjid Muhajirin di pedukuhan VII. Setelah berbagai ubo rampe siap dikirab, warga pun berarak menuju balai desa yang jaraknya sekitar 1 km.

Jumlah gunungan yang disajikan kali ini juga bertambah. Jika biasanya hanya dua gunungan, kini ada tiga gunungan yang diperebutkan warga. Humas panitia bersih desa Supri JP mengatakan, gunungan dari hasil bumi itu sebagai wujud syukur warga atas hasil panen yang selalu melimpah.

Sesampainya di balai desa, ancak-ancak (nasi tumpeng yang dibungkus daun pisang dan janur) yang dibawa warga didoakan oleh pemuka adat sebelum dimakan bersama. Setelah makan bersama selesai, tiga gunungan diperebutkan warga yang sedari pagi setia mengikuti jalannya ritual.

“Bersih desa sebenarnya dilaksanakan setiap tahun. Namun untuk skala besar, baru tiga kali ini dilaksanakan. Rencananya, acara semacam ini akan terus diselenggarakan, mengingat Desa Tayuban sebagai salah satu desa budaya di Kulonprogo” pungkas Supri. (leo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s