Dari Mati Listrik Hingga Dianggap Kehilangan Roh

Posted: October 11, 2010 in news

*Manunggal Fair Menuai Sejumlah Kritikan

Kulonprogo – Pelaksanaan Manunggal Fair (MF) 2010 menuai sejumlah kritikan dari berbagai kalangan. Baik dari para pedagang yang mengeluhkan mati listrik selama dua malam berturut-turut, hingga beberapa warga yang merasa MF tak ubahnya pasar malam biasa.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah pedagang yang turut menyemarakkan gelaran MF mengeluhkan matinya aliran listrik selama dua hari berturut-turut pada Rabu dan Kamis (6-7/10) malam.  Akibatnya, pendapatan para pedagang menurun drastis selama dua hari itu.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum MF Widodo mengatakan, gelaran MF kali ini pihaknya menggandeng pihak ketiga untuk mengurus teknis pemasangan instalasi listrik. Sedangkan tahun sebelumnya, masalah teknis listrik langsung ditangani PLN UPJ Wates.

“Semestinya instalatir memperhitungkan beban daya yang dibutuhkan sejak awal. Selain itu, pihak instalatir diketahui tidak memasang main circuit breaker (pemutus hubungan listrik otomatis) di beberapa titik stan” jelasnya, Sabtu (9/10).

Selain karena matinya aliran listrik, gelaran untuk menyemarakkan ultah Kabupaten Kulonprogo ke 59 juga dikritik sebagian warga yang merasa MF telah kehilangan rohnya. Sebagaimana diketahui, MF 2010 digelar untuk menegaskan kembali visi Kabupaten Kulonprogo yang menjadi acuan dan tujuan dalam melaksanakan program-program pembangunan.

Namun sebagian warga menilai, MF yang seharusnya sebagai media edukasi, hiburan, serta melihat perkembangan program pembangunan pemkab itu tak ubahnya pasar malam biasa.

“Hampir seluruh stan adalah pedagang. Dan ironisnya, banyak (pedagang) yg bukan asli Kulonprogo. Pertanyaannya, apakah memang demikian yg menjadi tujuan dari pihak penyelenggara?” tulis salah seorang warga dalam akunfacebook Media Center Kulonprogo, belum lama ini.

Menurut Widodo, kritikan tersebut ada benarnya. Sebab, perhelatan akbar selama 10 hari itu (sejak 2-10 Oktober) hanya mendapat jatah dana Rp 15 juta.

“Tahun 2009 dananya Rp 78 juta. Bahkan pada 2008, lebih dari Rp 100 juta. Dengan dana minim, kami tetap harus menyelenggarakan acara semaksimal mungkin” jelasnya. Jadi, imbuhnya, mau tak mau panitia harus berupaya mendapat suntikan dana dengan cara mendatangkan investor. (leo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s