Tim UGM Tak Tepat Waktu, Warga Berjam-jam Menunggu

Posted: October 11, 2010 in news

*Penelitian Penyebab Tanah Ambles Tahap Pertama

Kulonprogo – Molornya kedatangan tim dari Fakultas Tehnik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat sebagian warga Dusun Sabrang Kidul, Purwosari, Girimulyo resah. Sebelumnya, Kamis (7/10), sejumlah pakar yang akan melakukan penelitian terhadap amblesnya tanah itu dijadwalkan tiba di lokasi pada Jumat (8/10) sekitar pukul 09.00. Namun hingga pukul 12.00 lebih, tim dari UGM belum juga kelihatan batang hidungnya.

Lelah menunggu, sebagian warga berangsur meninggalkan lokasi. Sementara, sejumlah wartawan dan anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) setempat masih bertahan di lokasi. Akhirnya, tim yang dipimpin langsung oleh salah satu pakar geologi, Pradipta Gora Kusuma tiba seusai salat Jumat, sekitar pukul 13.00. Sedangkan, kepala jurusan Teknik Geologi Prof Dwikorita Karnawati dijadwalkan meninjau lokasi pada Sabtu (hari ini, red).

Saat dikonfirmasi melalui telepon, Dwikorita menjelaskan kedatangan timnya pada hari pertama hanya melakukan pendataan dengan mengumpulkan keterangan warga dan mencatat data di lapangan. “Termasuk melihat dari dimensi bentuk longsoran hingga arah longsoran itu sendiri” terangnya. Dia menambahkan, hasil penelitian akan dievaluasi dan selanjutnya (hari ini, red) dijadwalkan sudah bisa melihat indikasi dan arah amblesnya tanah.

Sementara itu, salah seorang peneliti Pradipta Gora Kusuma di lokasi mengatakan, pihaknya menemukan adanya retakan-retakan lain yang bisa menjadi rekahan jika turun hujan deras. “Untuk memaksimalkan penelitian, kami akan memanfaatkan kompas, GPS dan ektensometer (alat pendeteksi longsor).

Menurut Camat Girimulyo Sumiran, meski terlambat beberapa jam, kedatangan tim UGM disambut positif masyarakat sekitar. Sebab, warga selama ini resah dengan tidak jelasnya informasi seputar kondisi dan teknis terkait struktur tanah. “Adanya penelitian ini diharapkan mampu menjawab keresahan warga dan simpangsiurnya informasi yang beredar” ujarnya.

Terpisah, salah satu warga Nila (25) mempertanyakan kenapa pemasangan ekstensometer di Kulonprogo pada akhir Agustus lalu justru memilih wilayah Banjaroyo Kalibawang. “Secara geografis, Desa Banjaroyo lebih rendah jika dibandingkan dengan wilayah Kecamatan Girimulyo, seperti Desa Purwosari ini yang secara kasat mata lebih berpotensi terjadi bencana” ujarnya. (leo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s