Bisnis Kecil Turun-temurun Sejak Jaman Jepang

Posted: October 26, 2010 in news

Mujiyo tengah mengasap lele olahannya

*Sentra Lele dan Belut Asap di Desa Banaran

Kulonprogo – Keberadaan Dusun Jati, Banaran, Galur sebagai setra pengolahan lele dan belut sepertinya belum banyak dikenal. Namun setelah ditelusuri, pengolahan lele dan belut secara goreng dan asap di dusun itu ternyata sudah turun-temurun sejak jaman pendudukan Jepang.

Menurut ketua kelompok setra pengolahan lele dan belut ‘Sari Progo’, Mujiyo (38),  berkembangnya usaha pengolahan lele dan belut pada masa itu diawali oleh dua orang, yaitu Mbah Amat Kardi dan Mbah Kromo Munawi.

“Seiring berjalannya waktu, para keturunan sesepuh itu pun meneruskan usahanya. Tetanga sekitar pun lambat laun tertarik dan ikut mencoba. Warga yang saat ini menekuni usaha pengolahan lele dan belut adalah generasi ketiga dan keempat” ujarnya, kemarin.

Mujiyo menambahkan, tiga tahun lalu warga sepakat membentuk kelompok dengan nama ‘Sari Progo’. Kelompok itu beranggotakan 12 kepala keluarga di lingkup satu pedukuhan. Meski demikian, di luar kelompok juga ada beberapa warga yang menekuni usaha serupa.

Warga di dusun Jati mengolah lele dan belut sejak siang hingga petang. Kebanyakan, lele dan belut itu diolah dalam bentuk asap dan goreng. Lele dan belut yang akan diolah digarami dulu. Setelah didiamkan selama sekitar satu jam, kemudian dibersihkan dan dicuci. Lele yang telah bersih ditusuk dengan penusuk bambu memanjang.

Selanjutnya, tusukan-tusukan lele itu dijajar di atas tungku dan diasap dengan arang sabut kelapa. Ada juga yang dimasak dengan digoreng. Lele dan belut yang telah matang lalu  dikemas. Keesokan harinya, sekitar pukul 04.00, warga berduyun ke pasar-pasar tradisional, warung-warung makan untuk memasarkan dagangannya.

Mujiyo menjelaskan, lele asap (utuh) dijual seharga Rp 25 ribu. Sedangkan lele asap potong-potong yang ukurannya lebih besar sekitar Rp 40 ribu per kilogram. Sementara harga bahan baku lele berkisar Rp 12,5 ribu per kilogram.

Sejak dibentuk kelompok pada 2007 lalu, imbuh Mujiyo, inovasi produk olahan pun dilakukan, yakni dibuat juga menjadi abon lele. Namun diakuinya, pemasaran untuk produk baru ini masih belum begitu bagus.

“Yang jelas, usaha ini bisa mengangkat perekonomian warga. Kami juga terus  berupaya lebih mengembangkan lagi. Untuk itu, kami berharap ada kemudahan mengurus perijinan usaha kecil bagi anggota ini”pungkasnya. (leo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s