Ritual Bersih Desa Tepis Bencana

Posted: October 26, 2010 in news

Prosesi tabur bunga dan doa bersama di makam Kyai Jaro

*Gelar Doa Bersama di Makam Keramat

Kulonprogo – Pelaksanaan ritual bersih dusun Dzulkaidahan di Dusun Pringtali, Jatimulyo, Girimulyo kali ini, Jumat (22/10), berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain sekadar untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang, ritual kali ini juga diselingi acara doa bersama memohon perlindungan dari segala marabahaya yang mengancam warga.

Sebagaimana dikethaui, dalam sepekan ini bencana tanah longsor terus menghantui warga Girimulyo. Hujan deras yang kerap turun akhir-akhir ini mengakibatkan tebing-tebing longsor dan menimpa beberapa rumah warga juga belasan ruas jalan. Meski tidak ada korban jiwa, namun kerugian material ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

“Dalam kesempatan ritual tahunan ini, kami sekaligus memanjatkan doa bersama. Kami mohonkan kepada Tuhan agar air hujan hanya membawa berkah tanpa disertai musibah” ujar Sutarno (56), pemangku adat Dusun Pringtali.

Ritual yang diikuti warga dari tiga dusun, yakni Sumberrejo, Kembang, dan Pringtali (Sumbang Pring) itu berlangsung khidmat meski sempat diguyur hujan. Sebuah jolen (tandu) berisi aneka ragam sesaji diarak mengelilingi desa dengan diiringi rombongan kesenian tradisional seperti Jathilan dan Angguk.

Dalam perjalanan arak-arakan sejauh 1 km itu, rombongan menyempatkan berhenti di dua tempat yang dikeramatkan, yakni di pepunden (makam, red) Pring Larangan dan pepunden Jaro. Di dua makam keramat itu, warga mengadakan ritual doa bersama diselingi acara tabur bunga.

Sementara sesepuh adat dan perangkat desa melangsungkan ritual, para pemusik pengiring tarian jathilan terus melantunkan irama sederhana namun mampu membangkitkan suasana magis.

Setelah ritual selesai, arak-arakan pun melanjutkan perjalanan kembali ke lokasi utama ritual bersih dusun. Jolen yang berisi nasi golong, ingkung ayam, nasi tumpeng, jenang, dan beragam jajanan pasar itu kemudian dikelilingi warga dalam acara kenduri.

“Dinamakan ritual bersih dusun Dzulkaidahan karena acara ini diadakan setiap memasuki bulan kesebelas dalam penanggalan hijriyah (Dzulkaidah). Biasanya hari pelaksanaan dipaskan saat bulan purnama dan diusahakan pada hari Jumat” terang Sutarno.

Ritual bersih dusun ini, imbuh Sutarno, bakal ditutup dengan gelaran wayang kulit semalam suntuk. “Semoga bencana tanah longsor maupun angin ribut segera bergegas meninggalkan Kabupaten Kulonprogo, khususnya di Kecamatan Girimulyo” pungkasnya. (leo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s