Dua Penyalur TKI Ilegal Hanya Dituntut 8 Bulan Penjara

Posted: October 27, 2010 in hard news, news

Kulonprogo – Dua terdakwa penyalur tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal, Dwi Astuti (32) warga Bandung, Playen, Gunungkidul dan Slamet Rahayu (42) warga Canden, Jetis, Bantul dituntut delapan bulan penjara dalam sidang di pengadilan negeri Wates, Rabu (27/10).

“Kedua terdakwa terbukti sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak penipuan secara bersama,” ujar jaksa penuntut umum Semi Hastuti saat membacakan tuntutannya. Akibat perbuatan kedua terdakwa, imbuh JPU, Ngatini (23) warga Pedukuhan Nepi, Brosot, Galur hingga kini masih depresi berat.

Diberitakan sebelumnya, Ngatini adalah salah satu TKI ilegal yang nekat melarikan diri dari Malaysia karena diperlakukan tidak manusiawi di tempat kerjanya. Bersama empat orang TKI ilegal lain, Ngatini kabur dengan menumpang kapal nelayan dan mendarat di Riau pada April 2010.

Selama enam bulan bekerja di kilang emas Hoong Thye Gold di Penang, Ngatini tidak pernah digaji. Paspor, visa kerja, dan handphonenya disita. Ngatini tidak ditempatkan di mess sebagaimana dijanjikan kedua terdakwa.

“Korban diharuskan tinggal di rumah majikannya. Sepulang kerja, dia harus menjadi pembantu rumah tangga hingga dini hari tanpa ada libur sama sekali,” jelas JPU. Ngatini berangkat ke Malaysia pada September 2009 setelah kedua terdakwa menjanjikan statusnya sebagai TKI legal.

Namun, dalam persidangan-persidangan sebelumnya, kedua terdakwa tidak dapat menunjukkan visa kerja, perjanjian kontrak antara korban dengan perusahaan, dan bukti-bukti lain yang dapat menguatkan status Ngatini sebagai TKI legal.

“Otak pelaku bisnis penyaluran TKI ilegal ini adalah Zahir Husein yang hingga kini masih buron.  Pria kebangsaan India ini adalah suami dari terdakwa Dwi Astuti” ungkap JPU saat ditemui seusai persidangan. Kepada terdakwa Slamet Rahayu, JPU melanjutkan, Zahir Husein menawarkan uang Rp 2 juta untuk setiap TKI yang dapat direkrut dan diberangkatkan ke Malaysia.

Ketua majelis Hakim Matheus Samiaji menganggap tuntutan JPU terhitung ringan. Meski demikian, kedua terdakwa diberi kesempatan untuk mengajukan pembelaan melalui penasehat hukumnya pada sidang lanjutan, Rabu (3/11).

“Kedua terdakwa dijerat dengan pasal 378 jo 55 ayat 1 ke 1 KUHP yang ancaman maskimalnya 4 tahun penjara. Tuntutan JPU cukup ringan, karena hanya 8 bulan penjara dikurangi masa tahanan” kata Matheus. (leo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s